Sindo - Pemerintah
Irak menegaskan, konflik yang terjadi di negaranya bukanlah benturan
antara kelompok Sunni dan Syiah. Mereka menjelaskan, pertempuran di Irak
adalah antara kelompok terorisme dengan pemerintah yang mendapat
bantuan dari dunia internasional.
"Mengenai fenomena terorisme
ini bukan sebuah sikap dari sekterian yang berseberangan, tapi sebuah
tindakan biadab anti kemanusiaan," ungkap Menteri Luar Negeri Irak,
Ibrahim al-Jaafari pada Minggu (19/4/2015).
Al-Jaafari
menyatakan, hal ini terlihat dari korban yang jatuh bukan hanya dari
warga Syiah, tapi juga dari warga Sunni. Bahkan, mayoritas dari mereka
yang tewas bukanlah dari kedua kelompok tersebut, contohnya seperti
Yazidi.
"Provinsi-provinsi yang menjadi korban-korban ISIS adalah
Provinsi yang dihuni warga Sunni juga, sehingga bukan konflik antara
sunni dan syiah saja, tapi warga Irak yang berasal dari agama lain yang
turut menjadi korban," imbuhnya.
Sebelumnya, dirinya menyatakan,
salah satu cara untuk bisa mengalahkan ISIS adalah dengan membunuh paham
yang dianut kelompok tersebut. Menurut al-Jaafari, paham yang dianut
ISIS adalah, paham yang menilai semua kepercayaan yang tidak sesuai
dengan mereka adalah sebuah kesalahan.
Apr 20, 2015
Al-Jaafari: Konflik Irak Bukan Masalah Sunni-Syiah
Berita Lainnya
- Kuburan Berisi 1.700 Mayat Korban ISIS
- Ayah Bana “Bocah Twitter Aleppo” Seorang Teroris
- Tentara Suriah Kuasai Seluruh Allepo
- Rusia: Kami Tewaskan 35 Ribu Pemberontak
- Kesaksian Prajurit Suriah Saat Palmyra Jatuh ke Tangan ISIS
- Rusia Memulai Serangan Besar-besaran ke Teroris di Suriah
- Tentara Suriah Ultimatum Teroris di Aleppo “Menyerah atau Mati”
- Pemerintah Suriah Mendesak Pemberontak Keluar dari Allepo

