Pemerintah Amerika Serikat (AS) akan menuntut penjelasan kepada Pemerintah Filipina terkait pengumuman Presiden Rodrigo Duterte yang menyatakan Filipina “pisah” dari AS. Komentar Duterte itu diumumkan saat sedang lawatan ke China pada hari Kamis.
Pemerintah AS merasa perlu meminta penjelasan dari Filipina karena komentar sensitif Duterte itu membingungkan. Departemen Luar Negeri AS menyebut pengumuman Duterte bertentangan dengan hubungan dekat kedua negara yang masih terjalin.
”Kami akan mencari penjelasan tentang apa yang presiden (Duterte) sampaikan tentang perpisahan dari AS,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS, John Kirby, seperti dikutip Reuters, Jumat (21/10/2016). ”Ini tidak jelas bagi kami apa artinya dalam semua ramifikasi-nya.”
Seperti diberitakan sebelumnya, pengumuman bahwa Filipina ”pisah” dari AS disampaikan Duterte di depan 200 pelaku bisnis Manila dan Beijing di China.
”Di tempat ini, Anda yang terhormat, di tempat ini, saya mengumumkan perpisahan saya dari Amerika Serikat,” kata Duterte yang disambut tepuk tangan oleh ratusan orang di forum tersebut yang juga dihadiri Wakil Perdana Menteri China, Zhang Gaoli.
”Baik dalam militer, tidak hanya sosial, tetapi ekonomi juga. Amerika telah kehilangan,” lanjut Duterte.
”Saya sudah menyesuaikan diri dalam aliran ideologi dan mungkin saya juga akan pergi ke Rusia untuk berbicara dengan (Presiden Vladimir) Putin dan mengatakan kepadanya bahwa ada tiga dari kita melawan dunia, China, Filipina dan Rusia. Ini satu-satunya cara,” ujar Duterte. - Sindo
Oct 21, 2016
Duterte : Filipina Pisah dari Amerika Serikat
Berita Lainnya
- Takut Dihabisi Duterte, 48 Pelindung Gembong Narkoba Menyerah
- Halau China, Jepang Akan Kirim Peralatan Militer ke Filipina
- Pesawat Militer Filipina Merasa Ditantang Kapal Perang China
- Bentrokan Militer Filipina dan MILF
- Pesawat Tempur Siluman F-35B Lightning II Terjatuh
- EFEK KERUSAKAN HOWITZER M777 AMERIKA YANG DIKIRIM KE UKRAINA
- AMERIKA SERIKAT KIRIM SENJATA BESAR-BESARAN KE FINLANDIA BERSIAP HADAPI RUSIA
- NBC NEWS: MILITER AS MEMBANTU UKRAINA DALAM MENARGETKAN RUDAL DI LAUT HITAM

